Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Februari 2013

KAU LAH SANG AYAH BIOLOGIS


“Ngga pernah biasa biasa aje kalo after kumpul sama Yuntubung. Kalo ngga nangis yaaa ngakak huaanjir xD”.

                Itu sedikit prolog tentang cerita kami hari ini, Sabtu, 16 February 2013. Lebih tepatnya satnite. YA SATNITE. Masih kurang jelas? SATNITE guyyyssss, waktu paling indah buat para umat yang double. Yang single mah yaudah ya byeee gue mau tidur aja hoaaammss.

                Back to the topic, bukan masalah single atau doble atau triple dan kawan-kawannya yang mau gue bahas disini. Tapi emang kenyataannya mau ngga mau status itu harus dibawa-bawa juga sih-___- Sekarang coba kita berandai-andai, misalnya nih Yuntubung ini doble alias punya pacar alias ngga jomblo alias udah muph on (okaaaay yang terakhir emang ngga nyambung), mungkin ngga sih satnite para cewek cantik gaul dan mempesona ini hanya dihabiskan dengan sepiring pancake dan kopi yang tidak berhasil Mita habiskan? Mungkin aja. Kan Mita takut gemuk (baca : takut tambah gemuk). Skip makin ngga nyambung.

                Okay sebelumnya gue certain dulu ya apa itu Yuntubung. Yuntubung itu nama singkatan persahabatan kami bertiga. Yun means Syon became Siyun. Tu means Mita became Mitu. And last Bung means Bunga became. . . Bunga juga sih-__- Nama Yuntubung atau disingkat YTB ini ditemukan saat motor berwarna keperakan Syon (panggil saja Ag) bocor. Ditemukan oleh seorang remaja berparas Justin Bieber Garut yang dengan segudang alasan tidak bisa saya sebutkan namanya. Tapi saya akan tetap menyebutkan inisialnya saja okaaay, Rafi. Sip kan.

“Yah Yuntubung maaaf gue ngga bisa kesana. Lagi pula udah ditambel juga kan?” R said on text message.

(backsound When Your Gone) Awalnya tiada yang dapat memisahkan kami bertiga. Tidak ada yang bisa saudara-saudara. Hujan, panas, hujan lagi, panas lagi, bahkan kemilau sang dewa tak bermahkota pun tidak bisa. Dewa bermahkota itu sampai sedih dan menopangkan dagunya pada sebelah tangannya, “Andai aku berambut. . .” He said. Ia sangat sedih hingga tak menyangka akan hadiah batik yang kami berikan padanya. Ia seraya mengeluarkan handphonenya untuk berfoto bersama. Dan disanalah keakraban antara YTB dan sang dewa tak bermahkota terjalin dengan baik. 



                Namun kini kami bertiga telah berbeda SMA, 99,98,39. Perbedaan itulah yang menyebabkan kami terpisahkan hingga sulit bertemu. Lalu apa kabarnya dengan banjir di Jakarta? 

                “Bawa barang berharga”.
                “Dokumen penting”.
                “Bawa sarung pak”.
                (hening. . .)

Saat SMPN 179 terjadi kebakaran, dimana kalian semuaaaa??! Pernahkah kalian mengingat ucapan sang dewa tak bermahkota?

                “Jangan suka bermain api. Nanti  apinya jadi gEdE”.

Sungguh saya menyadari bahwa yang barusan itu tidak ada kesinambungannya.

                Jadi guyyss, satnite ini berawal dengan kumpul di salah satu warnet ternama di bilangan Jakarta, tepatnya Jakarta Timur, tepatnya lagi Pasar Rebo, lebih tepatnya lagi Kalisari, dan mungkin yang paling tepat itu di Jalan Kalisari Raya samping SMPN 179. Dari halte busway Pasar Rebo kalian cukup naik angkutan umum berwarna merah 09, dan teriaklah saat telah sampai di depan persis warnet tersebut,

                “Bang kiri bang!”.

Warnet tersebut adalah warnet resmi milik Syon. Officially owner of Warnet Fitri. Saat saya tiba disana, Mita si wajah bercorak gelembung besar di wajahnya berteriak,

                “Waaa Boeng”,

Saya langsung mengernyitkan wajah,

                “Bukan temen saya”.

Pipi Mita goyang-goyang mendengarnya (goel goel goel).

                Seperti biasa kami langsung sharing tentang cerita kami di hari-hari sebelumnya. Berbeda sekolah berbeda pula ceritanya, namun sayang dunia terlalu sempit sehingga menyebabkan teman-teman kami saling sambung menyambung. 

                “Asep itu suka banget MU. . .” Mita said.
                “Maksud lu Asep farhun karuhun nuhun itu? Itu temen SD gue, Ta.” Syon said.

Saya ngga mau kalah cerita.

                “Hello wanda, Edo panda, biscuit isi yang enak”. (irama lagu Hello panda)
                “Hah si Hello edo panda wanda? Itu temen SD gue juga puhliiss”. Syon said again-__-

Dunia sempit. Dunia sempit. Dunia sempit. Gara-gara Syon. Semua emang gara-gara Syon. Ya yaa bisa jadiii!!!

                Kali ini yang lebih banyak cerita itu Mita. (Maklum saya dan Syon belum ada cerita menarik, cerita yang asik, dan cerita yang layak untuk disajikan) Mita yang udah totally move on (prok-prok). Mita yang fallin’ love. Mita yang berbunga-bunga. Mita yang tertawa dan menutupinya dengan telapak tangan, namun tak mampu menutupi seluruh pipi besarnya. 

                “Tapi kenapa sih harus beda lagi. The same character but on different person” Mita said.
             “Ya karena seseorang itu akan terus kebawa dari masa lalunya, Ta. Suka ngga suka. Mau ngga mau” Syon said.
                “Bung, lu ngga mau cerita?” Mita asked.
                “Ya enggalah orang belum berubah dari topic yang dulu” Syon answered.
                “Anjir-______________-“.

Dan seterusnya kami bercerita sembari memakan makanan ringan favorit kami. Makanan ringan yang selalu ada di saat kami belajar menjelang Ujian Nasional. KRIAK dan SUMBER ENERGI. 

“Makan apa yang larinya kencang?”

Kemudian Syon mulai streaming youtube, Mita mulai stalking, saya. . . terkapar lemah di atas lantai bingung harus apa. Idola ngga punya, pacar ngga punya. Oke.

                “Fitri Putri. . .” Mita screamed.
                “Syoooooon. . .” I continued.

Syon menoleh dengan tampang jelek ke arah kami (emang Syon jelek) dan menatap computer lagi.

                “Yon ayoooo boring pengen jalan” Mita said.
                “Ah males taaaa mager kangen sama Eric gue.” Syon replied.
                “Eric anak mana?” I asked
                (hening. . .)
                “Bung plis dia itu artis Shinwa” Mita jawab tapi bete.
                “O.” I said.
                “Yon ayooooooo” Mita screamed again
                Again. . .
                Again . . .
                Again. . .

                “Iya ah bawel. Lu matiin computer yang lain dulu sono!” Syon akhirnya menyetujui dan mulai mengclose youtube dan kawan-kawannya.

                Let’s go to. . .
   (hening. . .)
                “Kita kemana?” nahlo bingung.
                (mikir)
                (one year ago. . .)
                “Nah kita ke tempat pancake ajaaa” I said.
                “Yuk cuus”.

RAME. BETE. KESEL.

                “Kemana dong?” I asked.
                “Udah Kapovi” Syon said.

Kapovi. Kapovi. Kapovi. Disinilah awal kami menemuinya. . .
                
            Pelayan datang memberikan list menu sekaligus memo untuk menulis pesanan. Kami melihat list menu. Melihat. Lalu bingung. Pelayan ikut bingung. Dan kembali ke tempat asalnya di belakang mesin uang.

                “Mesen apa nih? Yang beda-beda dong biar bisa nyomot-nyomot” Syon said.
                “Gue. . . pancake gulung ya” Mita said. Syon pun menulis pesanan di memo.
                “Lu apaaan eh?” Syon asked to me.
                “Apaan ya? Bingung. . . pengen pancake gulung. . .” Syon pun menulis pesanan itu.
“. . . tapi pengen pisang bakar juga” lanjut saya. Syon menggerutu karena kesal sudah terlanjur ditulis yang tadi ke dalam memo.
“Jadinya lu apaan? Udah gue tulis juga” Syon said.
“Itu kan gue udah. Lu pisang bakar aja, Boeng. Biar beda-beda” Mita suggested.
“Mmm iya sih, cuma pengen pancake. . .”
“Eh lu mie aja Boeng kan enaaaak” Mita suggested again. Syon makin kesel liatnya. Ditambah mas masnya udah ngelirik-lirik dari balik jeruji besi. Diikuti temannya yang mirip seperti. . . (saya cepat-cepat mengusir pemikiran itu)
“Apa ya. . .” (mikir)
(one year ago)
“Cot aaaaah lama banget. Dari tadi udah corat-coret ini memo. Pusing ah” Syon kesel. Ngamuk. Pulang. Eh balik lagi soalnya ngga bisa nyalain motor Ag.
“Ahahahahahaha. . .”
“Sini dah gue yang nulis aja” Mita said dan mengambil memo dari Syon.
“Gue pancake gulung deh Taaaa” I said.
“Mm. . . Yaudah gue pancake ice tumpuk deh” Mita pun mencoret pesanan tadi dan menulis di tempat yang masih kosong.
“Mesen dikit nyoret banyak” Syon mulai berisik. Mas masnya mulai ngelirik lagi. Sepertinya kami kalamaan mesen. Temannya pun ikut melirik. Pemikiran itu datang lagi dan saya segera menepisnya.
“Lah YOOOOOON lu aja belum mesen” Mita screamed. Mas masnya kaget. Niat nutup kapovi tapi ngga jadi soalnya tamunya belum pada bayar.
“Gue. . .” Syon mikir.
“Lama kan lamaaa, udah paling ujungnya pisang bakar juga” I said.
“Engga mau” Syon said.
(hening. . .)
“Yaudah deh pisang bakar aja. Coklat” Syon said again. Dibilangin batu. Punya temen buatuuuuu! (flashback)

Pesanan pun penuh tertulis di memo. Penuh bukan karena banyak pesanan, melainkan coretannya yang banyak. Coretan lambang kelabilan. . .

Mas mas pelayan pun datang dengan gembira dan segera membuat pesanan kami. Seketika teman mas mas pelayan yang satu lagi melirik, dan kali ini pemikiran saya sudah tidak dapat saya abaikan lagi.

“Serius ngga boong, mas yang itu mirip Bombom. Bulet, mana coklat” I said finally.
“. . .ahahahahahahahah”.
“Bung apaan sih luuu” Syon said.
“Lol, apa kabarnya ya bombom?” Mita asked.

SKIP. OKE.

                Dengan penuh candaan, keceriaan, senda gurau, tangisan, dan air mata. . . (Ini apa), pesanan berhasil kami habiskan (baca : Syon dan saya). Kami pun memanggil mas mas pelayan untuk meminta bil.

                “Bon Bung kalo disini” Mita said. Sambil nyengir.
                “Struk ta” I said. Mata saya kembali melirik kearah mas-masa yang mirip dengan Bombong tadi.
                “. . .astagaaa mirip banget Bombom. Fix”.

Rasa tawa mulai menyeruak batin.

Dikarenakan mas mas pelayan tidak menyauti panggilan kami, teman mas mas pelayan yang satu pun menyaut. Bak pahlawan di dalam kegelapaan. Bak peri di tengah surga. Bak permata di ambang laut. Bak mandi sih gue rasa. . . ia pun menghampiri kami. Dan disinilah cerita dimulai.

“Ya mba ada apa ya?” tanyanya ramah dan senyum yang merekah.

Betapa berdosanya kami, tepatnya saya. Senyuman yang seharusnya dibalas senyum, saya balas dengan tawa ngakak yang tak lagi terbendung. Saya fix mengingat Bombom, FIX.  Bombom adalah tikus rumah saya yang hilang yang merupakan sahabat jadi-jadian saya. Ciri-ciri bombom : bertubuh bongsor, berbulu cokelat (bule), bermata bulat, berekor panjang, dan gemar memakan seragam sekolah saya, kue lebaran saya, sendok garpu saya. . . Unbelievable guyyys! Saya segera tersadar dan mencoba menghentikan tawa saya , lalu mulai berbicara kepada mas-mas pelayan yang tetap setia tersenyum (duh mas lo makin mirip Bombom).

                    “Minta. . . itu. . . list harga. . . eh struk” ucap saya terbata.
                “Bon mas boooon” sahut Mita. Lalu mita menutup mulutnya karena mulai tertawa lagi. Seperti biasa pipinya tidak berhasil tertutupi.
                “Oh bon. Baik. Sebentar yaaaa. . .” ucap mas mas itu seraya memainkan kedua jemarinya keatas kebawah membentuk pistol. OH MY GOD THAT’S UNBELIEVABLE!



                Mita seketika tertawa terbahak-bahak tanpa henti, disusul saya yang juga melihat hal barusan yang dilakukan mas mas tadi. Entah itu gerakan yang sok asik, sok muda, atau dia yang ngga pantes. Syon ikut tertawa melihat kami berdua tertawa ngakak.

                “Fix gila Bung, Bombom” Mita said.
                “. . . ahahahhaahhaha”.
Saya tidak menjawab karena tawa yang tak bisa saya hentikan. Extra LOL!
                “Apaan sih lu pada?” Tanya Syon mulai bingung.
               “Wakakakaka lu ngga ngeliat sih tadi Yooon. Kocak yaaa tangan mas-masnya. . . (Mita menirukan gerak tangan membentuk pistol dan digerakan keatas kebawah)”
                “. . .fix bombom”.
Syon mulai mengerti dan kini tertawa terbahak-bahak.
                “Sebenarnya saya ini Bombom. . .” Ujar Syon menirukan mas mas tadi.
                “Bukan yaa, sebenarnya saya ini ayah biologis dari Bombom” sahut saya.
Syon tertawa lagi.
                “Saya ayah biologis Bombom, anda mengenalnya? Saya telah kehilangan putra saya sejak beberapa abad lalu. . .” lanjut Syon bercerita.
Mita memainkan tangannya lagi (ting ting). Kami semua tertawa terbahak-bahak bersama.

                Seketika mas-mas itu datang dengan senyum yang sama seperti tadi dan memberikan bonnya. Karena kami semua masih terus tertawa-tawa, tidak ada satupun dari kami yang mau membayar ke kasir. Kami memuaskan diri terlebih dahulu untuk tertawa, dan tak terasa sudah pukul 11 malam. Mas-mas itu terlihat memperhatikan kami.

“Mengapa mereka tertawa? Apa salahku Tuhan? Bantu saya ya Tuhan. . .” doa sang pelayan kepada Tuhan.

Doa itu pun terkabulkan. Kami mulai meredakan tawa kami. Dan saya akhirnya membayar ke kasir. Senyum itu terkembang lagi di wajah mas mas itu. 

                “Oh my God. . .” batin saya. Saya tertawa lagi.
             “Wah mba mba ini lagi happy ya, ngga papa ketawa aja itung-itung olahraga” ucap sang pelayan besar hati.

Saya makin tidak enak, namun apa mau dikata tawa saya terus bergelora. Saya menarik nafas dan menahannya agar bisa berbicara.

                “Ma. . .kasih mas” ucap saya berhasil menahan tawa untuk beberapa detik. Mas mas itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan kami.
                 
                 Kami langsung ngibrit ke tempat yang aman yang jauh dari bayang-bayang ayah biologis Bombom itu. Kami lari (padahal bawa motor) sejauh mungkin dan terus berlari. Kami terjatuh dan tak bisa bangkit lagi. Kami tenggelam dalam lautan tawa ceria. Kami bahkan tersesat dan tak tahu arah jalan pulang. Aku tanpamu ayah, butiran debu. . . (Bombom said)

                Sekian yaa cerita saya ini. Kalo penasaran cerita YTB selanjutnya, check terus page ini, follow kami di twitter : @bungadjauharie @meinitars @yunciyun
Thank you guyyys. 
                       
By : Bunga Mentari


Sabtu, 25 Agustus 2012

Sang Pemberi Harapan Palsu Jatuh Cinta

Just shared the one short story by me. Read and give me comment, thanks guys ;))

Pagi yang sejuk. Jalanan terasa lengang tanpa kendaraan roda empat di sana-sini. Rian mengendarai motor besarnya dengan senyum terkembang penuh kebanggaan, hatinya terus berseru, bahwa sebentar lagi gadis tercantik di SMA tempatnya bersekolah akan jatuh dalam pesona dirinya. Sambil memandang kearah kaca spion yang menghadap ke wajahnya, Rian berkata, "Cukup buat dia bener-bener jatuh cinta sama gue, selebihnya. . who cares?"

"Hai May, lu kok sendirian? Bodoh banget cowok cowok sekitar lu ngga manfaatin kondisi kayak gini" ucap Rian diikuti kedua alis May yang terangkat karena bingung akan maksud ucapan Rian. "Maksudnya rugi banget cewek secantik lu dianggurin" lanjut Rian menjelaskan. May langsung tersipu malu, wajahnya menjadi merah padam, siapa yang tak senang dipuji laki-laki yang teramat kita sukai? Ditambah sekarang mata tajam Rian sedang menatapnya lekat lekat. "Ah Rian, aaa. . Bisa aja, eh engga gitu, eh gimana ya. ." May tampak salah tingkah. Rian memegang tangan May yang ada diatas meja dan berkata, "Pelan-pelan ngomongnya, biar aku ngerti, kenapa hayoo?" Seketika tingkah laku dan kata kata Rian membuat May semakin gugup tak karuan, jantungnya berdegup cepat, seolah dirinya terbawa dalam mata tajam itu May menjawab, "Gue suka lo Rian!"

Sejak hari itu, hari dimana May mengutarakan perasaannya kepada Rian, sejak hari itu pula mereka resmi berpacaran, dengan posisi May lah penembaknya. Hal ini sungguh menggemparkan seluruh penjuru Sekolah itu, "Seriusan si May, yang udah jelas udah pasti cewek paling cuaaantik di sini nembak Rian? Oh My God, berapa cowok yang udah ditolak May? Mulai dari yang jelek sampe ganteng, pendek sampe tinggi, pejalan kaki sampe bermobil, ternyata ujungnya justru dia yang nembak cowok? Gila!!!" Gerutu salah seorang gadis teman seangkatan May tidak percaya akan kejadian ini. Memang, Rian bukan sembarang laki-laki di SMA itu. Ia berparas luarbiasa tampan, pintar, kaya raya, menarik, dan termasuk 5 laki-laki terpopuler di SMA itu, siapa juga gadis yang tidak terpikat? Kecuali jika gadis itu telah mengetahui kelakuan bejat Rian sebagai 'Raja PHP (Pemberi Harapan Palsu) tersadis' yang pernah ada. Namun biarpun kabar ini sudah menyebar, tetap saja banyak gadis keras kepala yang tetap nekat meladeni pendekatan Rian, yang justru mereka anggap sebuah anugerah. Sudah tak terhitung jumlah gadis yang berhasil ditipu oleh Rian. Biasanya setelah gadis-gadis itu ditinggalkan oleh Rian, mereka langsung menangis tersedu-sedu, bahkan katanya ada yang hampir gila karena telah memberikan segalanya untuk Rian. Uh, No Way!

Hari-hari awal dengan Rian memang terasa membahagiakan bagi May, namun bagaimana dengan hari ke 7? May ditemukan duduk meringkuk disudut kamar mandi lantai 3 dengan kondisi kacau total, mata sembab, muka pucat, rambut berantakan, dan tubuh lemah. Untungnya hal ini diketahui Meri, pengurus Osis yang kebetulan memasuki kamar mandi tersebut. "Maay, lo. . Lo kenapa May?" tanya Meri panik melihat kondisi May. May tidak menjawab, namun Meri langsung mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dalam hati ia mengumpat, "Liat apa yang bakal gue perbuat ke lo Yan!!!" Meri pun  membawa May ke ruang UKS dengan segera.

Rian datang ke sekolah di pagi hari. Tidak ada sedikitpun raut takut, cemas, atau merasa bersalah layaknya tidak ada hal apa apa yang terjadi pada dua hari lalu. Langkahnya sangat percaya diri, kini tidak akan ada lagi seorang manapun yang meragukan pesonanya dalam memikat hati para gadis cantik, "Haha, siapa lagi yang mau jadi korban gue? Just come here!" serunya dalam hati dan senyum kebanggaan itu terkembang lagi.
Gubraaaak!!! "Aaaaaw, lo. . Oh sorry, gue buru-bu. . " gadis itu berhenti berkata-kata dan justru terkejut dengan tatapan di hadapannya, "Lo Rian kaaan? Sorry sorry, gu. .gue ngga sengaja, sorry" lanjut gadis itu terbata-bata. Gadis itu segera merapikan buku-bukunya yang berserakan di lantai dan membungkukan badannya untuk meminta maaf kepada Rian sekali lagi. Gadis itu pergi meninggalkan Rian yang masih terbingung-bingung diam di tempat mencerna kejadian barusan. Mata tajamnya pun menemukan sebuah saputangan bertuliskan 'Meri Amanda' warna merah muda. Segera dipungutnya saputangan itu. Setelah sejenak memperhatikan tiap sudutnya, Rian menggumam, "Nama dia Meri. ."

Meri sibuk membaca dan menandatangani tumpukan proposal di mejanya, sebagai ketua Osis mau tak mau pekerjaan ini harus dilaluinya. Perut Meri terasa sangat lapar, namun hari sudah terlalu sore sehingga kemungkinan kantin masih buka sangatlah kecil. "Aaaaaarrrggh, lapeeeeer" keluh Meri keras-keras. Namun selapar apapun, ia tetap harus menyelesaikan pekerjaannya dulu

Meri tidak menyadari ada seseorang yang mendengar keluhannya itu, hanya seseorang, namun dialah penyelamat perut Meri di sore itu. "Sore ketua Osis, capek ya?". Mendengar suara itu Meri seketika tersentak, matanya membulat fokus pada sosok itu, "L. . Loo? Ri . .", "Rian, iya ini gue. Ngga usah kaget gitu kali, kayak liat apaan aja lu" Ucap Rian menyelesaikan perkataan Meri yang terbata. Butuh waktu beberapa detik bagi Meri menyadari semuanya, satu. . Dua. . Tiga, Meri pun tersenyum sinis, "Siap lo Yan!" ketusnya dalam hati. ", senyum sinis itu seketika berubah menjadi senyum manja yang menggoda, "Oh sorry sorry, gue lagi senewen banget nih Yan kerjaan gue banyak banget. Lo kok bisa kesini? Mimpi apa gue didatengin lo?" tanya Meri. Rian tertawa ringan, "Ah jangan gitu laah. ." hening sebelum akhirnya Rian melanjutkan, "Tadinya niat awal gue cuma mau ngembaliin ini . ." Rian meletakan sapu tangan Meri diatas meja. Meri melirik ke mejanya dan kembali menatap Rian, "Tapi?" tanya Meri dengan alis terangkat. "Mm, karena gue denger ada cewek  yang teriak kelaperan, jadinya gue mau ngajak lu makan bareng. . ", "disini" tandasnya seraya mengangkat 2 kotak makanan yang sedari tadi dijinjingnya. Meri terkejut melihat ini, tawanya mengembang lebar, "Riaan, lo seriuus? Lo baik banget. Sumpaaah! Thank youuuu" jerit Meri senang dan itu membuat Rian tersenyum tanpa sadar.

Bruuuk. Rian menghempaskan tubuh di tempat tidurnya. Hari ini ia benar benar bahagia, entah apa sebabnya. Hanya saja yang ia tau, ia sangat senang bisa menyelamatkan Meri dari kelaparan dan membuat gadis itu menjerit gembira. "Hmmm. ." Rian tersenyum mengingat saat saat bersama Meri tadi.

Hari-hari berikutnya ada sesuatu yang berubah pada diri Rian, ada aktivitas baru yang dilakukannya seperti menemani Meri di ruang Osisnya, makan bersama, mengantarnya pulang, dan. . Menelfonnya hanya untuk menanyakan 'Lo udah tidur?'. Hanya itu, namun semuanya terasa berpengaruh baginya.  "Hahahaa, haduuh Riaaan, lu ganteng tapi masa iya ngga ngerti cara download file di email? Heloooo" ledek Meri melihat Rian kebingungan mengutak-atik laptop Meri, saat ini mereka berada di ruang kerja Meri. Rian mendongak kesal, "Gue bukan ngga ngerti, tapi laptop lo eror di klik malah nge hang. Lo liat aja sini". Meri justru tertawa-tawa melihat muka jengkel Rian. Ia pun berdiri untuk menghampiri Rian, "Riaaan, ini bukan nge hang, tapi lo ngga tau rahasia laptop gue" ucap Meri. Meri menumpukan sikunya diatas meja agar bisa menjangkau laptopnya, sedangkan Rian duduk bertopang dagu di depan laptop Meri. "Nih gue kasih tau, cara. . Aaaaaaw!"  Meri hampir saja jatuh ke lantai karena terselip kaki kursi, untung saja Rian memegang pinggangnya sehingga ia selamat. Namun sekarang mereka justru saling bertatapan tanpa ada gerak sedikitpun. Tangan Rian gemetar, ia merasa lemah ditatap oleh mata bulat itu. Padahal selama ini mata tajamnyalah yang biasa melemahkan gadis gadis dihadapannya, namun sekarang? Ada apa ini? "Yaan?" seru Meri perlahan memecah keheningan. Rian segera tersadar dan mulai melepaskan tangannya dari pinggang Meri. "So. . Sorry Mer, gu. . Gue cuma mau nyelametin lu" jelasnya terbata, hey ada apa ini? Inilah pertama kalinya Rian terbata di hadapan seorang gadis. Meri tersenyum dan menepuk punggung tangan Rian, "Hahaa, justru gue yang makasih. Kalo bukan karna lo gue udah jatoh ke lantai kali. Thanks yaaaa." ucapan Meri selesai, namun mengapa tangannya tetap ada di atas tangan Rian?

"Thanks yaa Riaan, entah berapa kali gue ngucapin ini, hehe" seru Meri sambil tertawa lebar. Tawa ceria itu selalu saja menular pada Rian, ia ikut tertawa, "Sama-sama Meer. Masuk deh lo, udah malem, lo harus istirahat" ucapnya hangat. "Mmm, okedeh, bubaaay Riaan" Meri pun berjalan memasuki halaman rumahnya.

Sosok Meri sudah tak terlihat lagi, namun Rian masih tetap diam disana berharap sosok itu bisa dilihatnya lagi. "Ah, besok kan gue masih bisa ketemu dia. ." gumamnya dan tersenyum.

Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Rian terus saja tersenyum dan tertawa mengingat semua tentang Meri. Matanya, tawanya, senyumnya, sikapnya, dan. . Caranya memperlakukan dirinya, "Gue nyaman sama lo! Gue sayang . ." kata-katanya tak ia selesaikan, ia berpikir sejenak, apa benar ia sudah jatuh cinta pada Meri? Jatuh cinta?! Rasanya itu asing bagi dirinya. . . Lalu? Rian menghela nafasnya dengan lesu, "Daaammn, gue sayang lo Meri!".

Dilain tempat namun waktu yang bersamaan, Meri menghempaskan tubuh pada ranjang empuknya. Di dalam hatinya ia tertawa sinis, laki-laki yang selama ini hanya mempermainkan hati semua gadis, kini telah ada dalam genggamannya. Pada dasarnya Meri adalah gadis yang baik, ia tak punya catatan khusus sebagai playgirl atau sadis dalam urusan percintaan, hanya saja ia sudah gerah akan semua kelakuan Rian dan berniat membuatnya sadar. Sebentar lagi ia yakin semuanya akan berakhir sesuai rencananya, "Hahaha, makan lo Yaan!"

Keesokan harinya, Meri datang ke sekolah sekitar pukul 10 pagi, karena ia baru saja mewakili sekolahnya menghadiri acara undangan sekolah lain. Ia berjalan santai melewati koridor kelas sambil lalu tertawa kecil melihat teman-temannya kepusingan belajar, sementara dirinya tidak. Ya, Meri mencintai tugasnya sebagai ketua Osis.
Gubraaaak! "Aaaaaw!" Meri meringis kesakitan, ia memandang sinis pada seseorang yang telah menabraknya. "Rian? Goosh" umpatnya dalam hati. "Meri!" Rian nampak terkejut dan panik, ia segera membantu Meri berdiri, "Udah deh gue bisa sendiri!" bentak Meri menepis tangan Rian. "Mer lo gapapa? Gue nggaa sengaja Mer" ucap Rian merasa bersalah. "Mata lo, lo taro dimana sih? Hah?!" bentaknya dan berjalan menjauhi Rian. Rian nampak bingung, ia menarik lengan Meri tanpa sadar, "Meer. . Tunggu". Meri berhenti dan menoleh malas pada Rian, "Apa?" tanyanya acuh. Rian menjadi semakin bingung, ada apa dengan Meri? "Ada apa apaan? Ngga ada apa apaan juga" ketus Meri. Rian pun terlonjak kaget mendengar jawaban Meri yang sesuai akan isi hatinya, Apakah ia telah menyuarakan isi hatinya? "Yee, lo kenapa jadi bengong gitu, lo mau apa?" tanya Meri dan membuat Rian sadar akan lamunannya, sesaat ia ragu, ia belum siap, namun. . "Terserah lah!" ucap Meri dan berjalan pergi. Namun ia harus! Sambung pikirnya, "Meri!", Meri menghentikan langkahnya mendengar panggilan itu, Rian menghela nafasnya dan mengepalkan kedua tangannya, "Gue sayang lo Mer! Gue mau lo jadi pacar gue!" Meri tersenyum sinis, "Finally. ." ia pun berbalik arah dan menghampiri Rian dengan langkah penuh kebanggaan. Meri melipat kedua tangannya, "Apa? Lo ngomong apa? Tukang Php ngomong apa?". Rian terkejut akan sikap sinis Meri, "Mer. .", "Jawab!" bentaknya. "Gue sayang lo Mer, gue mau lo jadi pacar gue. Semenjak ada lo di hari-hari gue, gue ngga bisa berhenti buat mikirin lo. Lo kenapa Mer?" jelas Rian dengan nada memohon. Meri hanya tertawa mengejek dan mengangguk-anggukan kepalanya, "Gitu ya? Haha. .", "Mer. .", "Sssstttt, denger ya Rian. ." Meri menjeda perkataannya, "Rian yang maha hebat nih ya dalam urusan cewek, jujur gue ngga suka sama sekali sama lo. Sama sekali engga. Dan lo tau apa?". .  Semua sikap baik gue selama ini itu cuma semata mata untuk bikin lo jatuh cinta sama gue, yaa samalaah kayak apa yang biasa lo lakuin ke korban-korban lo. . Dan setelah lo udah mentok sama gue, mm. . Gue akan ngebuang lo layaknya sampah terus gue injek deh, gimana? Sakit kan Yan?. . But, who cares? Hahahaha".

"Wuhuuuu. . Wii. . Mampus lo Yaan, mampuus!" terdengar tepuk tangan dan sorak sorai gadis-gadis yang mengelilingi Rian dan Meri tanpa disadari keduanya. Rian tertunduk malu, sedangkan Meri justru tersenyum banga. "Kereen lo Mer, biarin aja dia rasain gimana sakitnya" sahut May, salah satu korban Rian. Meri tersenyum lagi, ia melangkahkan kakinya menghampiri Rian. Ketika ia sudah berada sangat dekat pada posisi Rian, Meri berbisik padanya, "Gue ngelakuin ini bukan karna jahat, tapi semata-mata cuma mau bikin lu sadar, sakit kan rasanya diginiin?. . Pesen gue, jangan lagi ya Yan. . Byee" Meri menepuk bahu Rian dan pergi meninggalkan Rian yang masih tertunduk malu tak bergerak menerima semuanya. Hanya satu yang ada dipikiran Rian. . .

It's really hurt!

Published with Blogger-droid v2.0.6

Jumat, 20 Januari 2012

DO YOU STILL LOVING ME?

Hai semuanyaaaa, kali ini gue bakal ngeposting cerpen gue nih, mohon kritik dan sarannya yaaa, thank youuu . . .


Hujan deras menimpa genting-genting bangunan tua ini. Air turun begitu bebasnya. Tak ada satu pun orang yang berkeliaran, bahkan burung-burung pun enggan. Kuamati segalanya dari balik jendela kaca bangunan ini, sepi dan sunyi. Tak ada sedikit pun keceriaan di luar sana, bahkan di hatiku juga sama.
Aku memalingkan wajahku dari jalan raya yang sedari tadi kuamati. Kusandarkan tubuhku pada tepian sofa yang nyaman, mataku lurus namun pandanganku kosong . Aku hanya sendiri di sofa kafe kecil ini, berbeda dengan orang-orang di sekelilingku yang sibuk bercakap-cakap dengan teman yang diajaknya. Seolah kesunyian ini menambah kegalauanku, pikiranku menerawan ingatan di hari itu.

Minggu, 01 Januari 2012

TEMUI AKU DI DEUTSCH

“Gue, gue. . . Ih, harus dijawab ya?” seru Maura menyuarakan ketidakberdayaannya. “Iya, harus Maura. Gue mau tau jawaban lo sekarang” jawab Mario dengan lembutnya. Maura mendecak lemas, memang pada akhirnya ia harus mengaku pada Mario, teman satu sekolahnya yang kini sedang menatapnya lekat-lekat. “Oke, gue juga sayang sama lo Mario”. Mario tersentak seketika. Ia masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar, “Maura, bisa lo ulang sekali lagi? Please gue mohon” tanyanya mencoba mencari kepastian. Maura tersenyum sebelumnya, “Gue juga sayang sama lo Mario” ucapnya dan disaat itulah Mario sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan pada Maura. Mario bingung harus berbuat apa, mengapa ia baru mengetahuinya sekarang? Jika saja ia tahu bahwa Maura menyayanginya, ia tidak akan mungkin berpacaran dengan adik kelas yang sejujurnya lebih disayanginya sebagai seorang adik. Mario menarik nafasnya dalam-dalam, “Mauraaa, kenapa lo ngga pernah sedikir pun nunjukkin ke gue kalo lo sayang sama gue? Justru lo selalu menghindar setiap kali gue ngedeketin lo. Gue piker lo ngga peduli sama semua perhatian gue. Itu alasannya gue nembak Reina, Mauraa. Gue mau coba buat ngelupain lo, tapi nyatanya gue tetep ngga bisa” jelas Mario menyesali semua keadaan.

Minggu, 20 November 2011

Kisah Kasih LDKS

        Aku dan rombongan SMPN 179 lainnya baru saja tiba di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan. Hari ini tanggal 23 September sampai besok 24 September 2011, kami akan mengikuti kegiatan LDKS. Sebagai panitia dari acara ini aku tentunya ikut membantu persiapannya. "Willi, tenda lu yang mana? Gue belom tau nih tenda gue yang mana" tanyaku pada Wildan, teman sekelasku yang terbiasa kupanggil Willi. "Yang itu Bingoo" jawabnya pasrah sambil menunjuk ke arah tenda paling kiri dekat dengan tenda guru. "Tenda gue suram banget Bingo ngga ada yang bawa tiker. Aduh pasti gatel-gatel deh gue tidur nanti" keluh Wildan. "Hahaha, iya sih suram banget. Awas lu Dan cowok semua isinya. protect your self" balasku puas meledek Wildan yang tampak bosan. "Yaudah ya gue ke tenda gue dulu, udah ketemu tuh Wil. Gue mau beres-beres ah biar ntar tidur ngga gatel-gatel" lanjutku dan tertawa pada Wildan.
        Aku pun menghanpiri tendaku sendiri. Wah, sepertinya aku ketinggalan. Ternyata seluruhnya sudah rapi dan bersih. Setiap tikar sudah terbentang penuh menutupi lantai tenda, tas-tas juga sudah tersusun rapi mengitari keempat sudut tenda. Karena tendaku sudah oke, aku beranjak melihat tenda-tenda yang lain. Tak jauh beda dengan tendaku, tenda yang lain juga penuh dengan anak-anak yang sedang membersihkannya. Melihat antusias ini aku tak heran, pastinya setiap tenda ingin menang di penilaian tenda terbersih nanti.
        Sesudah makan siang dan sholat Asar, seluruh peserta dan panitia LDKS dipanggil untuk berbaris sesuai dengan anggotanya di lapangan. "Sekarang waktunya membuat program kerja untuk masing-masing sekbid. Untuk OSIS inti Ibu minta buat jadwal piket harian dan rapat rutin. Bunga, tolong bantu OSIS inti ya" seru Ibu Wati keras-keras dan kemudian menoleh ke arahku. Aku pun mengangguk tanda mengerti dan menghampiri kerumunan OSIS inti. "Kak Bungaaa, dibawah pohon itu aja ya, enak adem" ucap Delia sang ketua OSIS sambil menunjuk ke tempat yang dimaksud. "Oh yaudah, ayo ayo" jawabku dan berjalan ke bawah pohon rindang itu.

Minggu, 04 September 2011

Tahu's Strory

"Bungaaa, bangun ah lu! latihaaaan! kita ngga punya waktu banyak yaa!" seru Syon sambil menimpali tubuhku -yang terkapar di lantai kamar vina- dengan batal. Aku menatap Syon dengan malas. Jujur aku sangat lelah berkeliling dengan motor untuk mencari bank BNI disaat matahari terik seperti tadi bersama Syon, herannya dia masih saja semangat. Aku menoleh dengan malas, "males yon ah, capek gue" sahutku dan merilekskan tubuhku lagi di lantai. "Ih dia mah, yang lain udah pada siap latihan itu" Syon terlihat marah, ia berteriak lagi agar aku bangun.

Selasa, 23 November 2010

I'm Sorry Brother

“Eca bisa diem nggak sih?”
     Bentak Dinda kepada adik laki-lakinya yang terus mengoceh. Dinda  langsung masuk kamar dan membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Adik perempuannya, Salwa datang sambil marah-marah kepadanya.
     “Ka, kak Dinda apa-apaan sih? Bentak-bantak Eca kayak gitu! Dia nangis tuh!”
     Dinda cuma diam saja. Lalu Salwa meninggalkan kamarnya dengan muka yang masih kelihatan kesal.
     “ Ya Tuhan, kenapa tadi aku bentak Eca? Dia nggak salah apa-apa…”
     Hanya kata-kata itu yang selalu menghantui Dinda sepanjang malam. Dinda adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Dua sebenarnya. Eca alias Rezha itu adik angkatnya. Adik perempuannya bernama Salwa. Dinda dikenal sebagai orang yang paling sayang sama Eca. Wajar saja orang sekeluarga menjadi heran ketika ia tiba-tiba marah-marah tidak jelas seperti tadi.