Jumat, 20 Januari 2012

WHEN I LOSE YOU [7]


Aku terkejut melihat kamar Ka Romi, ih ampun deh, berantakan banget kecuali tempat tidurnya. Kulihat komik-komik, buku pelajaran, dvd semuanya bertebaran dimana-mana. Kubereskan kamar Ka Romi. Kususun buku pelajaran di rak bukunya, kumasukkan dvd ke dalam rak di bawah tv, dan komik-komik ini? Aku bingung akan meletakkannya dimana. Pandanganku tertuju pada loker di samping rak buku Ka Romi, "Sepertinya loker itu kosong deh, disitu aja deh" ucapku sambil membawa setumpukan komik. Kubuka loker itu dan benar, tidak ada isinya. tetapi ada satu komik di dalam loker itu. Everytime I see you. Kuletakkan tumpukan komik di lantai, dan kuambil komik Everytime I see you, "Eh ini kan komik yang pengen banget gue baca. Waktu itu mau baca, eh Ka Romi dateng. Sekarang aja deh gue baca ini komik" ucapku. Kubuka halaman pertama komik itu, selembar kertas jatuh ke lantai. "Kertas apa itu?" ucapku sambil memungut kertas itu. "Kayaknya kertas yang dulu gue baca" lanjutku.
-Romi, kamu tau kalo om ini ngga akan bisa nemenin ruby dalam waktu yang panjang lagi. Penyakit om semakin hari semakin parah, dan om memilih pergi ke Singapur untuk pengobatan nak. Om ngga mau Ruby tahu tentang  penyakit om ini, itulah alasan kenapa om jarang sekali ada di rumah 5 tahun belakangan ini. Karena semakin om sering bersama Ruby, Ruby akan tau om punya penyakit ini. Om minta tolong Romi, jaga Ruby baik-baik. Buat dia selalu senang, kasih dia perhatian lebih sebagai ganti perhatian om dan tante yang hilang. Om percaya kamu bisa, karena om tau kamu yang terbaik. Terima kasih Romi-

Air mataku terjatuh seketika, kini aku rasakan hatiku pun bergetar hebat. Tuhaan, apakah ini semua benar? Bahwa papaku mengidap penyakit? Dan umurnya tidak lama lagi? Jadi papa di Singapur seminggu ini untuk itu? "Tidak. Tidak bisa. semua ini pasti salah! Aku tidak akan kehilangan papa dalam waktu sesingkat ini!" kelakku dalam hati. Pikiranku kacau, pikiranku berantakan. Satu-satunya yang kuingat sekarang adalah, aku harus mencari Ka Romi. Aku harus menyusul ke tempat lesnya. Cepat-cepat kuturuni setiap anak tangga dan kubuka pintu rumah Ka Romi. Lariku pun tiba-tiba berhenti karena aku sudah melihat Ka Romi, berdiri diam di samping mobilnya. Ka Romi jelas tidak melihatku, karena aku ada di belakangnya. Kuhampiri Ka Romi segera, ya segera, tapi nyatanya aku terdiam saat kudengar Ka Romi menyebut nama papaku di telfonnya, "Om Frisco kritis tante? Seberapa kritis?" kulihat raut wajah tak percaya Ka Romi, Tuhaan apa lagi yang terjadi?. "Tante se-serius? Tante yakin kalo Ruby harus tau sekarang?". "Baik tante, aku akan coba kasih tau Ruby" Ka Romi memasukkan handphone kedalam saku celananya, ia pun kini sudah berbalik menghadapku, raut wajhnya sedih namun berubah terkejut saat melihat ku, "Ru-Ruby? Kamu de-ngar...". "Iya ka, bahkan semuanya termasuk surat papa" ucapku memotong perkataan Ka Romi. "Rub, kamu harus bisa terima, ini semua ujian buat kamu" ucapnya. "Tapi kenapa Ka Romi tega bohongin aku? Aku anaknya! Tapi aku justru yang tau terakhir! Semuanya udah terlambat ka, aku ngga siap kehilangan papah, aku sayang sama papah!" perlahan tubuhku jatuh ke tanah, air mataku semakin deras mentes. Aku lemas membayangkan semua itu terjadi. Ka Romi membantuku berdiri. Kemudian ia menatapku dan meletakkan tangannya di kedua bahuku, "Ruby, percaya sama gue. semua akan baik-baik aja" ucapnya lembut sekali. Aku menggeleng dan terus saja menangis, aku seperti ini karena aku tahu, kondisi papa sudah tidak bisa ditolong. Ka Romi memelukku erat-erat, mencoba meyakiniku, mencoba memberikanku semangat. Sesuai permintaanku, Ka Romi pun memesan dua tiket tujuan Singapur penerbangan pertama selanjutnya. "Oke, ayo Rub kita berangkat" seru ka Romi dan kami segera masuk ke dalam mobil.

"Tuhan aku mohon, beri aku waktu untuk bertemu papah lagi" jeritku dalam hati. Aku lelah menangis, aku rasa aku tertidur di dalam pesawat, karena setelah aku bangun, Ka Romi berbisik di telingaku, "Kita udah mau landing kok Rub". Benar, 15 menit kemudian pesawat kami landing dengan selamat. Aku dan Ka Romi segera keluar dari pesawat tersebut, melanjutkan perjalanan hingga sampai ke Rumah Sakit tempat papa dirawat. Bagiku, perjalanan terasa sangat lama, padahal aku butuh secepatnya sampai. Kulihat wajah Ka Romi, aku yakin ia sangat lelah, namun ia tetap menuruti permintaanku pergi ke Singapur detik itu juga, "Makasih ya kak. Kakak ngerti banget perasaan aku" ucapku padanya. Ka Romi membalas tatapanku, "Asal lu seneng gue juga ikut seneng Rub" jawabnya lalu tersenyum padaku.

Sekarang pukul 8 malam, kami sampai di Rumah Sakit bertaraf internasional yang dipercaya papa untuk menyembuhkan penyakitnya. Rumah Sakit tersebut sudah ada di depanku sekarang, rasa takut menyelimutiku saat aku hendak masuk ke dalam Rumah Sakit itu, aku takut melihat semua bayangan burukku terwujud di dalam Rumah Sakit itu. "Ruby ayo kita masuk, ngga ada banyak waktu Rub. Om Fris butuh semangat kamu" Ka Romi meyakinkanku. Aku mengangguk dan perlahan berjalan masuk. Lantai 1, lantai 2, lantai 3, pintu lift terbuka. Kulihat mamaku sedang berbicara dengan seorang dokter, aku segra berlari, aku ingin mendengar apa yg dikatakan dokter. "… berusaha semampu kami bu, namun tuhan punya rencana lain" dokter itu berkata, dan meninggalkan mamaku. Meninggalkan aku juga yang diam membisu mendengarkan semuanya. Mama segera sadar, dan masuk ke dalam ruang rawat papa, sedangkan aku? Aku tetap diam di tempatku, tak tahu apa yang harus aku lakukan, yang aku tahu, aku terlambat, aku terlambat, aku terlambat. Tangisku pecah saat itu juga. Aku tak bisa menguasai diriku sendiri. Jika tidak ditahan oleh Ka Romi, aku pasti sudah jatuh ke lantai. "Tuhan ngga adil! Tuhan ngga pernah kasih aku kebahagiaan! Sekarang Tuhan ambil papahku! Besok apalagi yang akan diambil Tuhaan?!!" aku berteriak sambil terus menangis. "Kau tak pernah beri aku kesempatan disayangi seseorang! Aku baru sebentar merasakan kebahagiaan bersama keluargaku, tapi kini kau ambil lagi semuanya. Apa gunanya hidupku lagi tanpa papaku?!!" kurasakan emosiku terus meninggi. Aku tak kuat lagi, aku tak kuat lagi. Begitu berat beban ku ini. Kusarasakn tubuhku jatuh, namun seperti ada yang memegangiku. Dan aku tidak tahu lagi, karena semuanya menjadi hitam.

Aku berjalan dengan tubuh yang sempoyongan, menelusuri jalan panjang yang belum kulihat sama sekali titik akhirnya. Aku mulai lelah berjalan, tapi aku tidak boleh berhenti, aku harus tetap berjuang, karena aku harus menemukan impianku dulu. Di perjalanan aku menemukan tebing yang tinggi sekali. Aku tidak bisa melaluinya, tapi aku harus. Inilah jalan satu-satunya mencapi impianku. Kupanjati tebing secara hati-hati, yang penting aku berhasil. Setelah aku berhasil melalui tebing itu, ternyata aku masih harus menghadapi segerombolan rusa yang sedang berlari ke arahku. Jika aku berbalik arah, kembali ke tempat awal, aku tidak akan sampai di titik akhir sana. Jadi aku harus berusaha melalui rusa-rusa itu. Aku menyelinap diantara himpitan rusa-rusa liar itu, kurasakan sesak yang luar biasa, dan tak jarang pula rasa sakit menyerangku karena goresan tanduk rusa. Aku harus bertahan, aku harus bertahan. Pasti Tuhan sudah menyiapkan impianku di titik akhir sana, aku yakin. Dan ya, aku berhasil melaluinya meskipun kuakui aku tertatih. Hey, apa itu? Aku tersenyum melihat sesuatu di ujung jalan sana. Itukah kebahagiaanku? Papa ada disana. Ya benar itu papaku. Papaku yang hebat dan selalu menyayangiku. Kupercepat langkahku agar aku semakin cepat sampai disana. Papa tersenyum padaku, senyumnya sangat tulus, membawa kedamaian, dan memberi sejuta arti di dalam ingatanku. Aku pun membalas senyum itu. kupeluk papaku erat-erat, aku tak mau kehilangannya lagi setelah lama aku berjuang mendapatkannya. Tapi tiba-tiba papa melepaskan pelukannya secara perlahan, mengangguk-anggukan kepalanya padaku, tersenyun lagi, dan pergi mengikuti dua orang berjubah dan bertudung putih. Aku berlari sekuat tenagaku untuk mencegah papa pergi, kupegang tangannya erat-erat. Namun kulihat mata papa berkata tidak bisa, ia menggeleng padaku kini, seperti meyakinkanku dan aku melepaskannya. Aku tak bisa berlari lari, tubuhku lemas dan terjatuh ke tanah. Kurasakan papa yang semakin menjauh dan aku yang tetap tak bergerak. Aku berteriak, aku berteriak menyerukan nama papa. Tetapi suaraku hilang di telan keadaan, hilang, hilang, dan sirna. "Papaaa, kumohon kembali" ucapku keras, sangat keras dan aku berhasil menyuarakannya.

Aku terbangun, nafasku tersengal-sengal. Aku sadar hal tadi hanyalah mimpi. Sama saja, mimpi dan kenyataan tak jauh berbeda. Papa tetap sudah meninggalkanku untuk selamanya. aku menangis untuk yang kesekian kalinya lagi. Aku masih tak percaya semuanya jadi begini. Dimana aku? Mengapa semua ruangannya putih? Kurasakan tanganku ada dalam genggaman sesorang, rasanya hangat sekali. Aku menoleh ke samping, Ka Romi tidur dalam posisi duduk di pinggir tempat tidurku, memegang tanganku. Kasian Ka Romi, ia jadi ikut dalam pusara kesedihanku, menemaniku seperti sekarang ini. Kuusap tangannya lembut, dan Ka Romi terbangun, wajahnya letih seperti kurang tidur. "Ruby, kamu udah bangun?" tanyanya. Aku hanya mengangguk, "Aku dimana? Kenapa ada disini? Pa-papa?" lanjutku bertanya. "Kamu di ruang rawat Rub. Kamu kemarin pingsan. Dokter bilang kondisi badan kamu kacau. Psikis kamu juga. Kamu seperti punya banyak beban akhir-akhir ini" ucap Ka romi dengan pandangan yang terus menatapku. "Papa?" tanyaku lagi karena pertanyaanku belum terjawab. Ka Romi menghela nafasnya panjang, "Om Fris jam 12 nanti diterbangkan ke Jakarta buat dimakamkan di sana Rub. Aku mohon kamu tenang dulu ya, aku takut kalo emosi kamu naik, kamu drop lagi" lanjut Ka Romi dengan nada cemas. Aku hanya diam selama beberapa saat, aku ingin ikut pemakaman papa. "Ka, kenapa papa pergi secepet itu ninggalin aku? Padahal malam itu papa udah janji ngga akan ninggalin aku. Kalo papa pergi, ngga ada lagi yang sayang sama aku" ucapku tak sadar pada Ka Romi. Ka Romi menghapus air mata yang sejak tadi membasahi wajahku, ia tersenyum dan berkata, "Kalo ngga ada orang yang sayang sama kamu lagi, aku akan jadi satu-satunya org yang sayang sama kamu". aku mengangkat alisku. "Aku sayang sama kamu Rub, lebih daripada arti adik. Aku ngga mau liat kamu sedih lagi ya. Om Fris juga jadi merasa bersalah kalo kamu nangis terus" lanjutnya, jujur itu mengejutkanku, jawaban itu akhirnya kudapatkan hari ini. Aku tersenyum pada Ka Romi. Ia pun mengelus rambutku. Ternyata ka romi sudah mengurus tentang sekolahku dan dia. Ia sudah mengirim E-Mail pagi tadi untuk sekolah dan mengatakan bahwa papaku meninggal. Ia juga sudah memberi tahu Mei. Mei sangat terkejut, bahkan tadinya Mei ingin menyusulku ke Singapur. Namun dicegah Ka Romi karena sebentar lagi kami akan pulang. "Rub" ucap ka romi. "Iya kak?" jawabku. "Aku minta maaf ya tentang kejadian di Plaza Indonesia kemarin. Aku udah denger dari Mei. Aku ngga maksud nyakitin kamu, sumpah dia cuma sahabat aku, dia kemarin lagi ada keperluan di Jakarta, maka nya aku ketemuan sama dia. Namanya Syahnez, dia sekolah di Inggris sekarang. Dan yang kamu liat ngga seperti yang kamu bayangin kok. Nez lagi curhat sama aku tentang gebetannya, dia nanya gimana sikap cowok kalo suka sama cewe, ya aku contohin deh Rub. Tapi aku seneng sih kamu cemburu, berarti kamu kan" Ka Romi tidak meneruskan ucapannya, ia justru tersenyum menggodaku. Aku jadi malu mengingat itu lagi, aku tersipu dan kurasakan wajahku memerah “Haha iya iyaa" ucap Ka Romi seperti mengerti keinginanku. "Kamu laper?" tanya Ka Romi. Aku mengangguk. "Bentar ya aku cari makanan dulu, jangan kemana-mana. stay here" seru Ka Romi dan mencubit hidungku. "Iya kaa" jawabku tersenyum. Ka Romi baru saja akan keluar kamar, tapi tiba-tiba aku memanggilnya lagi, ia menoleh, "Aku juga sayang sama kakak. bukan cuma sebgai kakak" ucapku mengakui semuanya, aku lega sekarang. Kulihat raut kaget di wajahnya, namun akhirnya Ka Romi tersenyum. Ia pun keluar dari kamarku, mencarikan aku makanan. 

To be continue at part 8 . . .

By : Bunga Mentari

Tidak ada komentar:

Posting Komentar