Sabtu, 16 Februari 2013

WHEN I LOSE YOU [8]



Siang ini, pukul 12 aku akan benar-benar kehilangan papaku. Aku tidak akan pernah bisa lagi memeluk dirinya, bercanda bersama, dan bermain bersama. Namun aku yakin, masih ada satu hal yng tetap terjaga. Sosok papa akan tetap ada di dalam diriku, menjagaku, mengawasiku, dan memperingatiku jika aku salah. Tentang kasih sayangnya ? Aku yakin itu akan tetap aku rasakan darinya. Sekilas tentang papaku. Papaku adalah sosok yang dikenal karena sifatnya yang supel dan mengutamakan kepentingan orang-orang disekitarnya lebih dulu. Papaku mempunyai dua saudara kandung, om Alex, dan om Hutama. Papa dipercaya oleh kakekku untuk memimpin perusahaan Prakoso Grup, bukan karena ia anak pertama. Kakekku pernah bercerita padaku, karena dedikasi, pemikiran, semangat, kebijakan, dan intelektual tinggilah, papaku bisa sampai pada jabatan tertinggi dalam perusahaan Prakoso Grup. Berkali-kali prakoso grup mengalami masa-masa kritis, tapi semuanya berhasil dilalui papaku karena kegigihannya mempertahankan perusahaan itu.

Ia juga sosok yang penyayang pada keluarga. Sejak aku kecil sampai aku kelas 5 SD, papa selalu menyempatkan diri mengantar dan menjemputku sekolah, menemani aku bermain di taman rumah, ayunan, kotak pasir, dan menyirami bunga-bunga. Kami sekeluarga selalu liburan di setiap weekendnya, menghabiskan waktu bersama sampai tiba akhirnya perubahan dalam diri papaku. Perubahan ini disebabkan karena keinginan untuk menyembunyikan penyakitnya dariku, aku baru mengetahui alasan ini satu hari sebelum kepergian papa. Ini yang masih sulit aku maafkan dari diriku sendiri, membenci papa selama 5 tahun dan bersikap dingin padanya, bodoh benar aku menyia-nyiakan waktu sebanyak itu. Yang ada tinggal penyesalan, kini aku sama sekali tidak bisa memutar waktuku kembali. Tetapi, walau mulanya sangat sulit, sekarang aku sudah berhasil mengikhlaskannya. Pikirku, semua terjadi pasti atas izin Allah SWT, dan Allah tidak mungkin salah menggariskan kehidupan seseorang. Aku yakin, ada rencana indah yang sudah disiapkan Allah untukku setelah masa-masa kesedihan yang kuhadapi ini. Kurelakan papa pergi dan tenang di alam sana. 

Kediamanku sudah padat akan para tamu yang datang. Kulihat diantaranya ada sanak family, rekan bisnis papa, teman-teman papa, karyawan, dan juga para sahabatku. Mereka hadir untuk memberiku semangat. Aku tak heran melihat keadaan yang padat seperti ini, papaku adalah sosok yang dicintai. Kami berjalan perlahan diataran luasnya makam di sekitar kami, mengantar jasad papa ke peristirahatannya yang terakhir. Setelah doa dibacakan, jasad papa diturunkan ke liang lahat. Aku sedih, namun aku tidak lagi menangis. Karena aku tahu, tangisanku hanya akan membebani papa di sana. Kudengar adzan dibacakan di telinga papa. Papa telah dimakamkan, para pelayat pun sudah banyak yang pulang. Disini tinggal ada aku, mama, om dan tante wijaya, ka romi, juga G.O.D. Mei dan temanku yang lainnya menghampiriku, "Rub, gue turut berduka cita ya. Gue harap lu bisa terima semua ini dengan ikhlas". Aku terseyum pada mereka, kuberi jawaban yang menunjukkan aku sudah merelakan semuanya, dan teman-temanku pamit. Tante Wijaya berdiri dan memelukku, ia berkata padaku, "Ruby, kamu harus kuat ya. Anggap saja om Wijaya dan tante orang tua kamu juga. Maafin tante sempet ngerahasiain penyakit papa kamu dari kamu, tante pamit ya". Aku mengangguk dan berterima kasih pada mereka. 

Mama masih menangis terisak, aku mengerti betapa sulitnya mama menerima kenyataan, bahwa pasangan yang telah hidup bersamanya 20 tahun itu, telah pergi mendahuluinya. Aku memegang tangan mama, "Mah, mamah harus ikhlas papah pergi, ini semua rencana Allah mah. Kalo mama sedih terus, aku harus minta perlindungan dari siapa lagi?" ucapku untuk menyemangati mama. Mama menoleh padaku dan seketika memelukku, "Makasih nak, kamu harta mamah satu-satunya. Mama akan selalu jaga kamu, mama akan selalu jaga kamu" ucap mama. "Dan kalo mama sayang sama aku dan papa, mama harus janji ngga nangis lagi?" aku berkata sambil mengangkat jari kelingkingku, "Janji?" lanjutku. Mama akhirnya sedikit tersenyum, menyilangkan jari kelingkingnya di kelingkingku, "Mama janji" ucapnya. Mama seperti mencari sesuatu dari dalam tasnya, dan ia sepertinya menemukannya. Dikeluarkannya sepucuk surat entah untuk siapa. "Ruby, ada satu yang papa tinggalkan untuk kamu, 1 jam sebelum ia pergi. Papa berpesan pada mama untuk menyampaikan ini ke kamu" ucap mama sambil memberi surat itu padaku. Aku mengambil surat itu, "Untukku?" tanyaku. Mama mengangguk dan tersenyum. Mama pamit meninggalkan aku dan Ka Romi, kubuka surat itu dan kurasakan papa ada di sisiku. 

Untuk anak papa tersayang. Sebelumnya papa minta maaf nak, papa ngga bisa nepatin janji papa di malam itu untuk menemani kamu. Papa ingin, tapi Allah punya rencana lain nak. Maafin papa juga yang udah ngebohongin kamu selama 5 tahun tentang penyakit papa ini, jujur niat papa berbohong bukan untuk nyakitin kamu nak. Justru papa ngga mau membuat kamu sedih dan memikirkan penyakit papa. Maafin papa yang belum bisa bikin kamu bahagia. Maafin papa yang ngga bisa jadi ayah yang baik buat kamu. Maafin papa nak. Waktu antara kita memang ngga banyak nak, tapi percayalah, waktu yang sedikit itulah yang benar-benar teringat di hati papa. Kamu anak terbaik papa, anak kebanggaan papa, anak papa yang segala-galanya. Papa mohon kamu jangan menangis ya nak. Perbedaan antara kita hanyalah masalah dunia nak. Karena sampai kapanpun papa akan tetap selalu di samping kamu, nemenin kamu walau kamu ngga akan pernah tahu. Papa sedih jika mengingat semua kebersamaan kita akan hilang sebentar lagi, papa ngga bisa melihat senyum dan tawa kamu lagi, papa ngga bisa bercanda bareng kamu lagi, papa ngga bisa memeluk kamu lagi, papa ngga bisa jalan-jalan bareng kamu lagi, dan papa akan kehilangan semua tentang kamu. Papa yakin, saat papa menulis surat ini, kamu sedang dalam perjalanan ke Singapur menyusul papa, papa harap kita bisa bertemu walau hanya sebentar. Tetapi kalau tidak bisa, itu bukan salah kamu nak. kamu ngga pernah terlambat. Jaga diri kamu ya nak, jangan pernah mencoba hal-hal yang negatif. Kamu anak hebat, kamu anak pintar. Kamu harus tetap semangat demi papah. Papah sayang kamu, papa akan selalu kangen kamu. Ruby prakoso, terima kasih buat semuanya selama papa di dunia, I love you nak

Aku melipat kembali surat itu, menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, aku harus semangat demi papa! Ya! Aku berucap dalam hati, kuharap papa mendengarnya, "I love you dad, I'll always miss you dad. You're never made some mistakes for me. As I know, you are my spirit, you are my inspiration, and you are my happines. You give me the exprience that more than everything. Thanks God for your chance for me to feel his love. Once again, I love you dad, I love you more and more".

-Kita ngga pernah tau kapan api lilin kita akan padam, hidup ngga ada yang abadi. So guys, please, maanfaatin waktu yang kalian punya sekarang buat ngebahagiain orang-orang tersayang lu. Sebelum waktunya terlambat dan cuma menyisakan penyesalan di hati kalian- just now via blackberry. 

To be continue at last part. . .

By : Bunga Mentari 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar